Senin, 04 April 2011

KATA DERIVATIF


KATA DERIVATIF





BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Bentuk derivatif adalah pembentukan kata inflektif, seperti dibicarakan di atas, membentuk kata baru, atau kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya. Hal ini berbeda dengan pembentukan kata secara derivatif atau derivasional. Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitasnya tidak sama dengan kata dasarnya.

1.2  Masalah
Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna, sebab meskipun kelasnya sama,dengan sama-sama berkelas nomina, tetapi maknanya tidak sama.

1.3  Tujuan
Tujuan dari pembentukan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih dalam tentang sifat pembentukan kata, khususnya kata derivatif.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 P EMBENTUKAN KATA
      Untuk dapat digunakan didalam kalimat atau pertuturan tertentu, maka setiap bentuk dasar,terutama dalam bahasa fleksi dalam aglutunasi, harus dibentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, proses reduplikasi,maupun proses komposisi.
Umpamanya untuk konsstruksi kalimat Nenek…..komik itu dikamar hanya bentuk kata berprefiksi me-yang dapat digunakan menjadi predikat dalam kalimat itu. Sebaliknya, untuk kalimat berkontruksi komik itu…… nenek dikamar hanya kata berprefiks di- yang dapat digunakan. Begitu juga kontruksi kalimat……itu berlangsung di Gedung Kesenian hanya nomina berkonfiks per-/-an yang dapat digunakan: sedangkan untuk kontruksi kalimat….. jembatan itu menelan biaya 100 juta rupiah, hanya nomina berkonfiks peN-/-an yang dapat dipakai.
Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat, yaitu pertama membentuk kata-kata yang bersifat inflektif, dan kedua yang bersifat derifatif.
2.2 Inflektif
 Kata-kata dalam bahasa-bahasa berfleksi, seperti bahasa arab, bahasa latin, dan bahasa sanskerta, untuk dapat digunakan di dalam kalimat harus disesuaikan dulu bentuknya dengan kategori-kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu.
 2.3 Bentuk Derivatif
Pembentukan kata secara inflektif, seperti dibicarakan di atas, membentuk kata baru, atau kata lain yang berbeda identitasleksikalnya dengan bentuk dasarnya. Hal ini berbeda dengan pembentukan kata secara derivative atau derivasional. Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.Contoh dalam bahasa Indonesia dapat diberikan, misalnya, dari kata makan yang berkelas verba dibentuk kata makanan yang berkelas nomina.Perbedaan identitas leksikal terutama berkenan dengan makna, sebab meskipun kelasnya sama, dengan sama-sama berkelas nomina.
Kata bahasa Indonesia beraturan terjadi dalam dua tahap. Mula-mula pada dasar atur diimbuhkan sufiks –an menjadi aturan; setelah itu dasar aturan itu diimbuhkan pula dengan prefix ber- sehingga terbentuklah kata, yang memiliki arti “mempunyai aturan”. Bagan pembentukannya adalah sebagai berikut:


                                               
Afiks derivatif merupakan morfem terikat yang memiliki fungsi untuk membentuk kata-kata baru. Dalam proses pembentukan kata, afiks derivatif ini mengubah identitas leksikal disertai perubahan status kategorial dan mengubah identitas leksikal tanpa disertai perubahan kategorial. Permasalahan yang diteliti adalah tentang pembentukan kata dengan penambahan afiks derivatif disertai fungsi dan makna yang dihasilkan afiks tersebut dalam pembentukan kata.





BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Bentuk derivatif adalah pembentukan kata inflektif, seperti dibicarakan di atas, membentuk kata baru, atau kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya. Hal ini berbeda dengan pembentukan kata secara derivatif atau derivasional. Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitasnya tidak sama dengan kata dasarnya.






DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineke Chipta
























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar